“Itu yang gitaris namanya Ferri.” aku berkata.
“Kok sepertinya kamu selalu tau apa yang ada di pikiranku Fa. Kok kamu tau sih aku liatin gitaris itu? Salut aku sama kamu. Kamu emang yang paling mengerti aku.” Vana, sahabat karibku dari kecil hingga sekarang memuji sambil tersenyum ke arahku.
“Iya dong. Siapa dulu? Alfa. Hahaha...” aku tertawa menyombangkan diri.
“Kok kamu kenal sama Ferri gitaris itu Fa?”
“Dia kan temanku SMP dulu.” Jawabku.
“Ohh..”
Saat ini aku dan Vana sedang nonton Festival band di GOR UNY. Sekarang yang tampil adalah band dari SMA Hasanuddin. Besok adalah babak final dan band dari SMA ku udah lolos final.
“Ferri keren ya Fa.” kata Vana yang membuat dadaku sesak seketika.
“Kamu suka dia ya Van?” tanyaku terlihat biasa saja. Bisa hancur hatiku kalau Vana suka Ferri. Aku bakalan kecewa. L
“Ehm.. Gak tau ya. Aku kan belum kenal dia Fa.”
“Kalau kamu suka, nanti aku kenalin kamu ke dia. Siapa tau dia jodohmu. Hehehe..”
“Apaan sih. Kok ngomong jodoh-jodoh. Pulang yuuk! Ngantuk banget nih.” Vana mengajakku pulang dan aku pun mengiyakannya. Malas juga lama-lama melihat Vana menatap Ferri dengan cara seperti itu. Aku cemburu.
666
“Van.. Udah nyampe. Turun gih.”
“....”
Tak ada suara. Ternyata Vana ketiduran di dalam mobil.
“Van...a.. Ya ampun nih anak. Bangun woeeyyyyyy.. Udah nyampe nih!!!!!!!!!!!”
“Heh? Hah? Apa? Gempaaaaaaaa? Aaaaaaawwwwwwwww!!!!!!!!!!” kepalanya kejedot yang reflek membuatku tertawa seketika.
“Astaghfirullah haladzim, Vana. Udah nyampe ini. Turun dong. Tidur di kamar, bukan di mobil gini.” Aku ketawa cekikikan.
“Aku ketiduran ya? Maaf deh.. I’m sorry ya bang Alfa ganteng.” Vana merayuku. Tapi nggak mempan tuh.
“Iya deh. Aku tau kalau aku ganteng. Turun gih. Besok kesiangan nanti bangunnya. Apa perlu aku gendong?”
“Ngusir nih ceritanya?”
“Ehem..ehem.. Vana sayang. Ayo aku gendong.” Aku siap-siap menggendongnya.
“Nggak mauuuuuuuuuuuuuuuu......” Vana langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah tanpa pamit dan langsung menutup pintu.
666
“Vana..Vana.. kamu itu lucu banget ya. Aku suka sama kamu. Tapi kayaknya kamu nggak suka sama aku deh.” Aku berbicara sambil memandangi foto Vana.
“Kamu itu cinta monyet dan cinta pertamaku, Van. Dari dulu aku suka sama kamu tapi bingung gimana mau ungkapin perasaanku ini.”
Aku pun tertidur sampai pagi.
666







0 komentar:
Posting Komentar