“Kok sepertinya kamu selalu tau apa yang ada di pikiranku Fa. Kok kamu tau sih aku liatin gitaris itu? Salut aku sama kamu. Kamu emang yang paling mengerti aku.” Kataku sambil tersenyum ke arah Alfa, sahabat karibku dari kecil hingga sekarang.
“Iya dong. Siapa dulu? Alfa. Hahaha...” Alfa tertawa menyombongkan diri.
“Kok kamu kenal sama Ferri gitaris itu Fa?”
“Dia kan temanku SMP dulu.” Jawab Alfa.
“Ohh..” mulutku membentuk huruf o.
Saat ini aku dan Alfa sedang nonton Festival band di GOR UNY. Sekarang yang tampil adalah band dari SMA Hasanuddin. Besok adalah babak final dan band dari SMA ku udah lolos final. Secara gitarisnya adalah Alfa Cipta Andoko. Hehehe...
“Ferri keren ya Fa.” Kataku pada Alfa. Aku ingin melihat reaksinya saat aku berkata seperti itu.
“Kamu suka dia ya Van?” tanya Alfa biasa saja. Tak ada sedikitpun wajah cemburu yang diperlihatkannya untukku. Aku kecewa. L
“Ehm.. Gak tau ya. Aku kan belum kenal dia Fa.”
“Kalau kamu suka, nanti aku kenalin kamu ke dia. Siapa tau dia jodohmu. Hehehe..”
“Apaan sih. Kok ngomong jodoh-jodoh. Pulang yuuk! Ngantuk banget nih.” Aku mengajak pulang Alfa. Rasanya kalau bisa, aku memilih tidur saat itu juga. Ini udah jam setengah 12 malam dan aku masih di luar rumah. Untung udah pamit sama mama.
666
“Van.. Udah nyampe. Turun gih.”
“....”
“Van...a.. Ya ampun nih anak. Bangun woeeyyyyyy.. Udah nyampe nih!!!!!!!!!!!”
“Heh? Hah? Apa? Gempaaaaaaaa? Aaaaaaawwwwwwwww!!!!!!!!!!” kepalaku kejedot.
“Astaghfirullah haladzim, Vana. Udah nyampe ini. Turun dong. Tidur di kamar, bukan di mobil gini.” Alfa berkata dengan sabar dilanjut dengan ketawa cekikikan.
“Aku ketiduran ya? Maaf deh.. I’m sorry ya bang Alfa ganteng.” Aku mencegah Alfa ngamuk dengan bilang dia ganteng.
“Iya deh. Aku tau kalau aku ganteng. Turun gih. Besok kesiangan nanti bangunnya. Apa perlu aku gendong?”
“Ngusir nih ceritanya?” aku masih bertahan di dalam mobilnya.
“Ehem..ehem.. Vana sayang. Ayo aku gendong.” Kata Alfa sambil bersiap-siap seperti akan menggendongku.
“Nggak mauuuuuuuuuuuuuuuu......” Aku langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah tanpa pamit dan langsung menutup pintu.
666
“Gimana tadi festival band-nya Van?” tanya mama yang ternyata belum tidur.
“Biasa aja ma. Gak sekeren band-nya Alfa. Kok belum tidur ma?”
“Mama khawatir sama kamu. Tadi gantian jaga sama ayah kamu.”
“Waduh.. Mama sama Ayah kok sampai segitunya sih nungguin aku pulang. Makasih ya Ma.” Aku terharu dengan sikap orang tuaku.
“Biasa aja sayang. Bobok gih. Besok pagi tugas kamu nemenin Mama berkebun.” Mama menyuruhku tidur.
“Oke deh Ma. Met bobok Ma.. emuachh..” aku bergegas ke kamar.
666
“Ini bunga mawarnya ditaruh disebelah mana Ma?”
“Di hatimu dong Van” terdengar bukan suara Mamaku yang menjawab.
“Hahahahha.. Alfa Alfa. Bisa aja kamu. Bantuin tante dong.” Mama tertawa.
“Siap selalu bos.” Jawab Alfa.
“Ckckckck..” aku hanya bisa berdecak.
“Makanan sudah siap!!!!!!!!!!” Ayah berteriak dari dalam rumah. Minggu ini giliran Ayah yang masak. Semoga tidak membuat sakit perut. Amin..
“Ayo Fa ke dalem. Kamu pasti belum sarapan. Iya kan?” aku mengajak Alfa sarapan bareng.
Saat di meja makan kami ngobrol.
“Nanti malem aku nonton Festival Band lagi lho Ma. Kan final. Boleh ya?”
“Sama siapa?”
“Sama Alfa lah. Sapa lagi?” kataku.
“Kalo sama Alfa nggak papa.”
“Segitu percaya-nya ya tante sama aku. Hehehehe..” Alfa menyombongkan diri.
“Ya awas aja kalau kamu macam-macam sama Vana.” Mama mengancam Alfa.
“Iya deh tante. Nggak bakal macam-macam sama Vana. Alfa janji.” Kata Alfa.
666
Malam ini aku berdandan secantik mungkin untuk pergi ke Festival Band. Siapa tau si Alfa terpesona melihatku. Ceilehhh...
Alfa tuh nggak peka ya jadi cowok. Aku naksir dia lho dari kecil. Huft...
“Vana.. Alfa udah datang tuh.” Mama berteriak memanggilku.
“Iya Ma. Ini juga udah selesai.” Jawabku sambil berteriak juga.
Akhirnya kami pun tiba di GOR UNY.
“Hai Al.” Tampak seorang cowok menyapa Alfa.
“Hai Fer. Udah siap untuk tanding?”
“Sangat siap dong. Ini cewek kamu ya?” cowok yang bernama Ferri ini menunjuk ke arahku.
“Bukan. Ini temenku. Kenalin dong. Ini Vana.” Jawab Alfa.
“Hai Van.” Ferri menyapaku.
“Hai juga.” Sapaku sambil mengulum senyum.
666
“Jangan sedih gitu dong Fa.” Aku mencba menghibur sahabatku itu.
“Gimana gak sedih?” Alfa kelihatan mau ngamuk.
“Kan kita nggak sepenuhnya kalah Fa. Sabar ya. Lain kali pasti bisa menang.” Aku menenangkannya. Dia kelihatan kecewa dan sedih. Ini karena band kita kalah dari band Ferri. Sungguh mengecewakan memang. Tapi mau gimana lagi, emang belum rejeki.
“Hmm...”
“Kita pulang aja ya Fa. Jangan sedih gini dong. Ya ya ya.” Aku memohon kepada Alfa.
Aku menggandeng Alfa. Sepertinya dia nurut saja. Diceburin ke sungai enak kali ya. Hehehe...
Aku mengajak Alfa ke sebuah cafe. Dia tampak seperti mayat hidup.
“Kamu makan ya Fa. Pesen apa?” aku bertanya pada Alfa.
“Aku nggak nafsu makan Van.”
“Kok gitu sih?” aku semakin bingung untuk menghadapi Alfa.
“Ya aku masih nggak percaya aja.” Jawab Alfa.
“Aku bilangin ke kamu ya Fa. Kekalahan itu bukan akhir segalanya. Kalah menang itu sudah biasa dalam sebuah kompetisi. Jika kamu ikut kompetisi itu, kamu tidak hanya menerima kemungkinan yang terbaik. Kamu juga harus siap menerima kemungkinan-kemungkinan yang terburuk. Ngerti?” aku menasihati Alfa.
“Tumben..” jawab Alfa.
“Apanya yang tumben?” aku jadi bingung.
“Ya kamu lah Van. Tumben bijak. Hahahaha....” Alfa tertawa kembali.
“Ihh.. Dasar Alfa jelek. Huh...”
“Kok marah sih Vana sayang?”
“Bodo. Terserah!!” aku pura-pura marah.
“Aku cium lho kalau ngambek.”
“Iya iya. Udah nggak ngambek nih.”
“Anak pinter.” Kata Alfa sambil tertawa.
666
Esok harinya di sekolah aku mencari Alfa. Aku tak menemukannya di kantin maupun di taman. Di tempat parkir juga nggak ada. Mungkin dia di perpustakaan, atau di toilet?
Ternyata dia ada di perpustakaan bersama Wenda, anak kelas X 1. Aku kok jadi cemburu gini ya. Hiks... Akhirnya aku memutuskan untuk mendekati Ferri. Dengan liciknya aku mengganggu kemesraan mereka berdua.
“Hai Fa..Hai Wen” sapaku sambil tersenyum.
“Hai Van. Tumben ke perpus.” Jawab Alfa membalas senyumku.
“Hai kak Vana..” Jawab Wenda.
“Aku mau ngomong bentar sama kamu Fa. Aku pinjem Alfa dulu ya Wen?” kataku ke Wenda.
“Silakan kak. Gak papa kok.”
Aku mengajak Alfa keluar dari perpus. Kulihat raut wajah Wenda menunjukkan sedikit cemburu.
“Aku pengen kenal sama Ferri, Fa.”
“Ehm.. Oke deh. Ntar aku suruh dia hubungin kamu.”
“Oke deh. Aku ke kelas dulu ya. Salam untuk Wenda.”
Dalam hati aku kecewa. Kok Alfa nggak cemburu sih? Kayaknya dia emang suka sama si Wenda..
“Argggggghhhhhhhhhhhh!!!” aku berteriak dalam hati. Mungkin Ferri bisa mngobati sakit ini, pikirku.
666
From: +6283212666000
Malem Vana J
Siapa nih? Pikirku dalam hati. Kuputuskan untuk membalas sms tersebut.
To: +6283212666000
Ini sapa?
Drtt..drtt.. Hapeku bergetar.
From: +6283212666000
Ini aku, Ferri. Ingat kan?
Ohh.. ini Ferri. Hmm... langsung aku simpan nomor hapenya.
To: Ferri
Ohh.. ini Ferri yang temennya Alfa itu ya?
Yang di GOR waktu itu ya?
From: Ferri
Iya. Lagi ngapain nih?
To: Ferri
Nggak lagi ngapa2in.
From: Ferri
Besok jalan yuk.. J
To: Ferri
Kemana?
From: Ferri
Kemana aja bisa.
Dan akhirnya, esok harinya aku dan Ferri jalan-jalan keliling kota Jogja. Ternyata dia asyik juga diajak ngobrol. Aku ngerasa aku nyaman aja jalan bareng dia. Sampai-sampai aku lupa pada Alfa.
“Cieee..cieee.. yang kemarin abis jalan, temennya dilupain ya.” Alfa menyindirku saat kita belajar bareng di rumah.
“Iya dong. Bukannya kamu udah jadian sama Wenda ya?” Aku berbalik menyindirnya.
“Iya sih. Hehehee...” Alfa tertawa dan tawanya itu membuatku sakit. Aku hanya bisa tersenyum pahit. Mungkin rasaku padanya hanya sekedar rasa saja. Mungkin cintaku padanya tak lebih sebagai seorang sahabat. Seharusnya aku melupakan saja perasaan ini dan menjadikan dia sebagai sahabat saja. Toh dia juga nggak cinta sama aku.
“Kamu benar-benar cinta sama Wenda ya?” aku bertanya.
“Kok kamu nanya gitu? Cemburu ya?”
“Idiiihhh... Kok pede sekali ya?”
“Hayooo.. Kamu cemburu beneran ya?” aku menahan agar wajahku tak memerah. Sepertinya aku akan meledak marah.
“Bukan gitu maksudku. Kalau kamu benar-benar cinta dia, kamu nggak boleh sakitin dia. Perasaan cewek itu beda dengan cowok, mereka lebih rentan sakit hati.” Kataku.
“Iya iya. Aku janji nggak akan ngecewain dia.” Janji Alfa.
“Kapan-kapan double date yuuk.” Aku merasa ide ku ini gila.
“Apaa? Double date? Kamu udah jadian sama Ferri ya?” Alfa kaget.
“Ya belum lah. Emang aku gila apa jadian secepat itu. Kita kan baru kenal. Tapi Ferri itu orangnya asyik ya, romantis juga. Hahaha...” aku mendadak curhat.
“Kalau kamu suka sama seseorang, kenapa kamu nggak memperjuangkannya?”
666
Kata-kata Alfa tadi membuatku berpikir-pikir lagi. “Kalau kamu suka sama seseorang, kenapa kamu nggak memperjuangkannya?” Aku sukanya sama kamu Fa, tapi bagaimana aku bisa memperjuangkan kamu kalau yang diperjuangkan itu milik orang lain. Apakah aku harus menunggu? Menunggu hal yang tak pasti? Itu menyakitkan Fa, melihatmu bersama Wenda. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku terisak hingga ketiduran.
666
Pagi ini aku tidak berangkat bersama Alfa. Tiba-tiba Ferri tadi menelepon dan mengajak berangkat bareng. Aku mengiyakan saja ajakan Ferri karena malas ketemu Alfa. Seharian ini aku menghindari bertemu Alfa, kecuali di kelas tentunya. Aku melengos saat bertatapan mata dengannya, aku menghilang saat jam istirahat, aku pulang duluan bersama Ferri. Aku tak membalas sms-nya dengan alasan pulsa habis kalau ditanyai. Malamnya aku tau dia pasti ke rumah, makanya aku jam 7 malam memaksa tidur.
Esok harinya berjalan sama hingga beberapa hari aku menghindari Alfa. Aku memang sudah keterlaluan padanya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sakit jika melihat dia terus. Aku tak tau apa yang aku rasakan. Aku sudah mencoba untuk jatuh cinta pada Ferri, tapi nggak bisa. Ferri menyadari itu dan dia juga sudah menerima bahwa aku dan dia hanya sebatas teman. Aku menceritakan semua isi hatiku pada Ferri kalau aku cinta sama Alfa. Dan aku minta maaf pada Ferri sudah menjadikan dia hanya sebagai kedok. Saat ini aku benar-benar kangen sesosok Alfa.
Pagi ini di meja makan mama menyadari ada sesuatu yang aneh diriku. Mungkin mama merasa bahwa akhir-akhir ini aku jauh dari Alfa.
“Kok kamu sekarang nggak pernah main sama Alfa?” tanya mama.
“Nggak pernah main gimana ma?” aku balik bertanya.
“Ya itu. Sekarang mama jarang banget melihat kalian berdua main bareng, belajar bareng, berangkat sekolah bareng. Kenapa? Berantem ya kalian?” mama bertanya sedih.
“Nggak berantem kok ma. Emang kita masing-masing sedang sibuk aja. Makanya nggak bisa bareng-bareng kayak dulu lagi.” Kataku menjelaskan.
“Nggak mungkin. Sibuk kok sampai berhari-hari nggak pernah ngobrol. Kalian itu tetangga-an lho, sekelas juga.”
“Ehm...”
“Kenapa sayang? Ada masalah ya?”
“Iya tante. Masalah hati.” Tiba-tiba ada suara seseorang. Dan itu adalah Alfa.
“Tante tinggal dulu ya. Kalian selesaikan masalahnya dulu.” Kata mama.
“Alfa..”
“Apa?”
“Maafin aku ya.”
“Apa Van susahnya ngomong? Sms nggak pernah, nelpon nggak pernah, main ke rumah juga nggak pernah, ditemuin juga susah. Kamu kenapa?”
“Aku..aku..” belum selesai aku ngomong, Alfa memotongnya.
“Aku sayang kamu Van. Dan rasa sayang ini lebih dari sekedar sayang seorang sahabat.” Aku terisak, bingung dan tak tau harus berbuat apa. Alfa memelukku begitu saja.
“Aku juga sayang kamu Fa.”
“Aku sudah tau.”
“Kamu tau darimana?”
“Dari Ferri. Dia udah cerita semuanya.”
“Wenda?”
“Dia hanya aku anggap sebagai adek aku.aku hanya ingin membuat kamu cemburu, tapi kamunya malah setuju. Heran aku.”
“Aku juga heran sama kamu.”
“Heran kenapa?”
“Pikir aja sendiri. Udah ahh. Nggak usah peluk-peluk gini deh, risi tau.”
“Risi apa risi?” alfa malah menggodaku.
“Tauu deh, gelap. Aku sebel Fa, sama kamu. Kamu nyebelin. Eiuhhh...”
“Nyebelin gini tapi kamu cinta kan?”
“Siapa bilang?”
“Itu tadi kamu bilang juga sayang aku.”
“Sayang bukan berarti cinta kan?”
“Grrr.... Vana jelek. Awas kamu..!!!”
Aku berlari menghindar dari Alfa. Dia terus mengejarku.
The End








0 komentar:
Posting Komentar